Sabtu, 09 Januari 2016

Makalah Pembuatan Telur Asin



PEMBUATAN TELUR ASIN
( Implementasi Proses Osmosis )












Disusun Oleh :
XI-IPA 2
Eneng Yunengsih
Nira Susanti
Siti Tisas Sitra Sanana






DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BOGOR
SMA NEGERI 1 CARINGIN
2015














KATA PENGANTAR
          Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan karunia-Nya makalah implementasi proses osmosis  dapat terselesaikan dengan cukup  baik.
            Dalam penyusunan makalah ini kami masih menyadari bahwa keterbatasan pengetahuan dan pemahaman dalam impelentasi proses osmosis, menjadikan keterbatasan pula untuk memberikan penjabaran yang lebih dalam, dalam masalah ini, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu di harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
            Harapan, semoga makalah ini membawa manfaat bagi kita, setidaknya uuntuk sekedar membuka cakrawala berpikir kita tentang implementasi proses osmosis.
            Akhir kata, terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah ini. Terutama kepada rekan satu kelompok atas kerjasamanya, dan guru pembimbing yang telah membimbing dalam penyusunan makalah ini.




Bogor, 05 September 2015


Penulis,



DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.................................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah.............................................................................................. 1
C.     Tujuan Penelitian............................................................................................... 1
BAB II KAJIAN TEORI
A.    Transportasi  Zat................................................................................................ 2
B.     Osmosis............................................................................................................. 3
C.     Telur Asin.......................................................................................................... 4
D.    Implementasi Telur Asin Sebagai Peristiwa Osmosis........................................ 5
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A.    WaktuPenelitian ............................................................................................... 6
B.     Tempat Penelitian ............................................................................................. 6
C.     Alat dan Bahan ................................................................................................. 6
D.    Cara kerja .......................................................................................................... 6
BAB IV HASIL PENGAMATAN
A.    Hasil Pengamatan.............................................................................................. 8
1.      Tabulasi ....................................................................................................... 8
2.      Grafik ......................................................................................................... 8
3.      Deskripsi ..................................................................................................... 8
B.     Pembahasan ...................................................................................................... 9
BAB V PENUTUP
A.    Kesimpulan........................................................................................................ 11
B.     Saran ................................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Osmosis adalah perpindahan molekul air melalui selaput semipermiabel selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui membran permeabel selektif dan masuk ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor.
Telur yang direndam didalam larutan garam akan mengalami osmosis karena telur tersebut ditempatkan ditempat/lingkungan yang konsentrasinya lebih encer/rendah daripada di dalam telur (isi telur). Telur sebagai sel tunggal yang terbungkus cangkang yang memiliki pori-pori dan merupakan membran yang bersifat selektif permeabel, kuning telur sebagai inti. Hal itu menyebabkan air garam masuk ke dalam telur melewati membran/cangkang telur karena konsentrasi di dalam lebih tinggi daripada di luar, sehingga telur menjadi asin. Hal ini juga sesuai dengan pengertian osmosis yaitu proses perpindahan molekul-molekul zat terlarut dari konsentrasi rendah (hipotonis) ke konsentrasi tinggi (hipertonis).
B.     Rumusan Masalah
              Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.      Bagaimanakah proses implementasi pada pembuatan telur asin?
2.      Gizi apakah yang terkandung dalam telur asin?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian pada praktikum ini, adalah :
1.      Untuk lebih mengetahui secara detail tentang proses implementasi pada pembuatan telur asin,
2.      Memahami tentang proses implementasi pada pembuatan telur asin,
3.      Menambah pengetahuan tentang proses implementasi pada pembuatan telur asin.


BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Transpor Zat
Transpor zat yang terjadi pada sel, baik antarsel maupun organel sel dapat melalui dua cara, yakni transpor pasif dan transpor aktif.
1. Transpor Pasif
              Transpor pasif merupakan transpor ion, molekul, senyawa dari luar atau dalam sel tanpa memerlukan energi. Zat-zat yang ditranspor bergerak dari daerah berkonsentrasi tinggi hingga daerah berkonsentrasi rendah. Proses transpor pasif ini dapat terjadi secara difusi dan osmosis.
a.       Difusi
              Difusi adalah penyebaran molekul zat dari konsentrasi (kerapatan) tinggi ke konsentrasi rendah tanpa menggunakan energi. Secara spontan, molekul zat dapat berdifusi hingga mencapai kerapatan molekul yang sama dalam satu ruangan. Sebagai contoh, setetes parfum akan menyebar ke seluruh ruangan (difusi gas di dalam medium udara). Molekul dari sesendok gula akan menyebar ke seluruh volume air di gelas meskipun tanpa diaduk (difusi zat padat di dalam medium air), hingga kerapatan zat tersebut merata.
b.      Osmosis
              Osmosis adalah perpindahan ion atau molekul air (dari kerapatan tinggi ke kerapatan rendah dengan melewati satu membran. Osmosis dapat didefinisikan sebagai difusi lewat membran.
              Membran sel dapat dilewati zat-zat tertentu yang larut dalam lemak, zat-zat yang tidak bermuatan (netral), molekul-molekul asam amino, asam lemak, gliserol, gula sederhana, dan air. Zat-zat yang merupakan elektrolit lemah lebih cepat melewati membran daripada elektrolit kuat. Contoh zat-zat yang dapat melewati membran dari yang paling cepat hingga yang paling lambat antara lain: Na+, K+, Cl , Ca2+, Mg2+, SO42-, Fe3+. Membran sel bersifat permeabel terhadap zat-zat yang mudah melewati membran.


2. Transpor Aktif
              Transpor aktif adalah perpindahan molekul atau ion dengan menggunakan energi dari sel itu. Perpindahan tersebut dapat terjadi meskipun menentang konsentrasi. Contoh transpor aktif adalah pompa Natrium (Na+)-Kalium (K+), endositosis, dan eksositosis.
a.       Endositosis dan Eksositosis
              Endositosis artinya pemasukan zat ke dalam sel, sedangkan eksostosis artinya pengeluaran zat dari dalam sel. Proses ini tergolong transpor aktif dan melawan dapat gradien kadar (dari konsentrasi rendah ke tinggi). Contoh endositosis adalah fagositosis dan pinositosis. Fagositosis (phagein = memakan; chytos = sel) adalah proses di mana membran plasma satu sel membungkus partikel dari lingkungan luar dan menangkapnya dalam satu vakuola makanan. Vakuola kemudian menyatu dengan lisosom membentuk.
              Heterofagosom dan lisosom mencerna atau menghancurkan partikel tersebut. Contohnya sel darah putih dan sel ameba yang memakan bakteri. Sel-sel tersebut membungkus bakteri dan menangkapnya dalam satu vakuola makanan. Selanjutnya bakteri akan dicerna oleh lisosom. Pinositosis (pinein = meminum) adalah peristiwa sel memakan sel memakan zat cair dan membentuk sebuah gelembung. Cairan yang dimakan itu dimasukkan dalam vakuola makanan.
B.     Omosis
            Osmosis adalah perpindahan molekul air melalui selaput semipermiabel selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Membran semipermeabel harus dapat ditembus oleh pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut, yang mengakibatkan gradien tekanan sepanjang membran. Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui membran permeabel selektif dan masuk ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor. Tekanan osmotik merupakan sifat koligatif, yang berarti bahwa sifat ini bergantung pada konsentrasi zat terlarut, dan bukan pada sifat zat terlarut itu sendiri.

1.      Faktor yang mempengaruhi Osmosis :
a.       Ukuran molekul yang meresap: Molekul yang lebih kecil daripada garis pusat lubang membran akan meresap dengan lebih mudah.
b.      Keterlarutan lipid: Molekul yang mempunyai keterlarutan yang tinggi meresap lebih cepat daripada molekul yang kelarutan yang rendah seperti lipid.
c.       Luas permukaan membran: Kadar resapan menjadi lebih cepat jika luas permukaan membran yang disediakan untuk resapan adalah lebih besar.
d.      Ketebalan membran: Kadar resapan sesuatu molekul berkadar songsang dengan jarak yang harus dilaluinya. Berbanding dengan satu membran yang tebal, kadar resapan melalui satu membran yang tipis adalah lebih cepat.
e.       Suhu: Pergerakan molekul dipengaruhi oleh suhu. Kadar resapan akan menjadi lebih cepat pada suhu yang tinggi dibandingkan dengan suhu yang rendah.
C.    Telur Asin
Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memiliki rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya relatif murah. Telur dapat dimanfaatkan sebagai lauk, bahan pencampur berbagai makanan, tepung telur, obat, dan lain sebagainya. Telur terdiri dari 13% protein, 12% lemak, serta vitamin, dan mineral. Nilai tertinggi telur terdapat pada bagian kuning telur. Kuning telur mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan serta mineral seperti: besi, fosfor, sedikit kalsium, dan vitamin B kompleks. Sebagian protein dan semua lemak terdapat pada kuning telur. Adapun putih telur yang jumlahnya sekitar 60% dari seluruh bulatan telur mengandung 5 jenis protein dan sedikit karbohidrat. Kelemahan telur yaitu memiliki sifat mudah rusak, baik kerusakan alami, kimiawi maupun kerusakan akibat serangan mikroorganisme melalui pori-pori telur. Oleh sebab itu usaha pengawetan sangat penting untuk mempertahankan kualitas telur.
Telur asin adalah istilah umum untuk masakan berbahan dasar telur yang diawetkan dengan cara diasinkan (diberikan garam berlebih untuk menonaktifkan enzim perombak). Kebanyakan telur yang diasinkan adalah telur itik, meski tidak menutup kemungkinan untuk telur-telur yang lain. Telur asin baik dikonsumsi dalam waktu satu bulan (30 hari).
Di Indonesia, terutama di pulau Jawa telur asin biasanya diproduksi dari telur bebek pelari (Anas platyrhynchos domesticus) yang memiliki ciri khas cangkang telur yang berwarna hijau-kebiruan.

Sebagian besar telur yang biasa di buat untuk telur asin adalah telur itik. Keuntungan dalam pengawetan telur asin adalah,
1.      Telur yang di asinkan bersifat stabil, dapat di simpan tanpa mengalami proses perusakan
2.      Dengan pengasinan, rasa amis telur berkurang tidak berbau busuk, dan rasanya enak.
D.    Implementasi Telor Asin Sebagai Peristiwa Osmosis
Pengasinan telur umumnya dilakukan dengan dua cara, yaitu perendaman dalam larutan garam dan pemeraman oleh adonan campuran garam dengan tanah liat, atau abu gosok atau bubuk bata merah Prinsip kedua cara tersebut adalah dehidrasi osmosis, yaitu proses pengurangan air dari bahan dengan cara membenamkan bahan dalam suatu larutan ber- konsentrasi tinggi, larutan tersebut mempunyai  tekanan osmosis tinggi. Dehidrasi osmosis (osmotic dehydration) merupakan proses perpindahan massa secara simultan (countercurrent flows) antara keluarnya air dari bahan dan zat terlarut berpindah dari larutan ke dalam bahan. Perpindahan massa osmosis dinyatakan sebagai kehilangan air  dan penambahan padatan, SG, solid gain). Aplikasi dehidrasi osmosis dalam proses pengasinan, terlihat dengan keluarnya air dari dalam telur bersamaan dengan masuknya larutan garam ke dalam telur.
Garam (NaCl) akan masuk ke dalam telur dengan cara merembes melalui pori-pori kulit, menuju ke bagian putih, dan akhirnya ke kuning telur. Garam NaCl mula-mula akan diubah menjadi ion natrium (Na+) dan ion chlor (Cl-). Ion chlor inilah yang sebenarnya berfungsi sebagai bahan pengawet, dengan menghambat pertumbuhan mikroba pada telur. Makin lama dibungkus dengan adonan, makin banyak garam yang merembes masuk ke dalamnya, sehingga telur menjadi semakin awet dan asin. Lamanya telur dibungkus adonan ini harus disesuaikan dengan selera masyarakat yang akan mengonsumsinya.
Pada proses pembuatan telur asin terjadi pertukaran ion yang bersifat stokiometri, yakni satu H+ diganti oleh suatu Na+.  Pertukaran ion adalah suatu proses kesetimbangan dan jarang berlangsung lengkap . Ion Na didapatkan dari garam sedangkan ion H+ berasal dari air . Dengan demikian, ion Na masuk kedalam telur dan kadar air berkurang, akibatnya telur menjadi asin.



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.     Waktu Penelitian
Waktu penelitian pada hari Kamis, 27 Agustus 2015.
B.      Tempat Penelitian
              Tempat di laksanakannya penelitian di jln. May Jen He.Sukma km 13 desa telukpinang, kp. Cibolang Ciawi – Bogor. Lebih tepatnya di rumah Siti Tisas Sitra Sanana.
C.     Alat dan Bahan
Alat-alat :
1.      1 lembar ampelas halus / kertas gosok.
  1. 1 buah toples dan alat pengaduk.
  2. Wadah untuk meredam telur.
  3. Timbangan.
Bahan-bahan :
1.      Telur ayam dengan kualitas baik, sebanyak 4 butir.
  1. 250 gram garam dapur.
  2. 400ml air bersih.





D.    Cara Kerja
Cara kerja untuk membuat telor asin seperti berikut,
1.      Bersihkan telur terlebih dahulu dengan cara dicuci sampai bersih, keringkan.
  1. Gosok telur dengan ampelas untuk membuka pori-pori telur. Langkah ini agar garam mudah menyerap.
  2. Siapkan larutan pengasin yang dibuat dengan melarutkan garam kedalam air,
  3. Rendam telur yang telah dibersihkan kedalam larutan pengasin.
  4. Simpan  ±10 hari.
  5. Setelah proses perendaman, keringkan telur.
  6. Proses akhir yaitu dengan merebus atau mengkukus telur hingga matang.
  7. Telur asin siap disajikan.





BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
1.      Tabulasi
Berat awal
Hari ke 2
Hari ke 4
Hari ke 6
Hari ke 8
Hari ke 10
60,4 gram
61,6 gram
62,6 gram
63,5 gram
64,6 gram
65,2 gram

2.      Grafik
3.      Deskripsi
              Pada awal kegiatan percobaan membuat telur asin, yang berbahan dasar telur ayam. Di laksanakan  pada hari kamis 27 Agustus 2015, di rumah Siti Tisas Sitra Sanana yang berada di jln. MayJen HE.Sukma km.13 desa telukpinang Ciawi-Bogor.





              Pada awalnya berat telur sebesar 60,4 gram, kondisi telur normal volume larutan garam 400ml, kondisi larutan garam terdapat endapan berwarna putih, berbau garam.  Pada pengamatan hari ke dua berat telur 61,6 gram kondisi telur normal, kondisi larutan garam masih terdapat endapan berwarna putih, berbau garam. Pada pengamatan hari ke empat berat telur 62,6 gram. Pada pengamatan hari ke enam berat telur 63,5  gram. Pada pengamatan di hari ke delapan berat sebesar 64,6  gram. Pada pengamatan di hari ke sepuluh berat bertambah sebesar 65,2 gram, kondisi telur bertambah besar, volume larutan garam menjadi 230 ml, kondisi larutan garam terdapaat endapan berwarna putih dan hitam, berbau garam dan  amis.
A.    Pembahasan
            Telur yang direndam di dalam larutan garam akan mengalami osmosis karena telur tersebut ditempatkan di tempat atau lingkungan yang konsentrasinya lebih encer daripada di dalam telur. Anggap telur sebagai sel tunggal yang terbungkus cangkang yang memiliki pori-pori dan merupakan membran yang bersifat selektif permeable, kuning telur sebagai inti. Oleh karena itu, hal ini menyebabkan air dan garam masuk ke dalam telur melewati membran/cangkang telur karena konsentrasi di dalam lebih tinggi daripada di luar, sehingga telur menjadi asin setelah perendaman ±10 hari, hal ini sesuai dengan pengertian osmosis yaitu proses perpindahan molekul-molekul zat terlarut dari konsentrasi rendah(hipotonis) ke konsentrasi yang lebih tinggi(hipertonis).
Hal ini dibuktikan ada tidaknya molekul yang masuk, berat telur bertambah, hal tersebut menunjukkan bahwa volume telur bertambah akibat masuknya sesuatu molekul ke dalam telur, dalam hal ini air dan garamlah yang masuk ke telur, dan bukti lain yang menunjukkan bahwa air tersebut masuk ke dalam telur adalah berubahnya volume air setelah perendaman. Volume air setelah merendam telur selama ±10 hari lebih sedikit daripada volume air pada saat sebelumnya. Hal ini menunjukkan air masuk ke dalam telur bukan isi telur yang keluar.
Dalam mempersiapkan telur yang akan direndam, telur sebaiknya diamplas dahulu. Karena hal tersebut dapat mengikis kalsium yang ada di cangkangnya dan dapat mempermudah molekul agar dapat masuk ke dalam telur. Larutan garam dapat berfungsi sebagai pengawet karena garam dapat membunuh mikroorganisme dan mikroorganisme pun tidak dapat hidup di lingkungan ini.


Telur asin yang di buat dengan memakai abu gosok pada dasarnya sama dengan telur asin yang dibuat dengan larutan garam, hanya saja telur yang direndam lebih terjamin mutunya dibanding yang memakai abu gosok karena telur hanya kontak dengan larutan garam saja dan pembuatannya pun juga lebih steril dan bersih.
Berat telur bertambah dan volume air berkurang dikarenakan molekul air dan garam bergerak masuk ke dalam telur karena larutan garam lebih hipotonis dibanding isi telur yang hipertonis. Sehingga menyebabkan hemolisis atau masuknya molekul air dan garam ke dalam telur, sehingga berat telur bertambah tetapi volume air di luar berkurang.
Semakin encer larutan garam(jumlah garam lebih sedikit) maka akan semakin lama pula proses pengasinan, karena garam yang masuk lebih sedikit dibandingkan dengan garam yang masuk ke dalam telur ketika berada di larutan yang pekat(garam yang lebih banyak).


BAB V
PENUTUPAN
A.    Kesimpulan
Proses perpindahan molekul yang terjadi pada percobaan telur asin ini adalah osmosis.Peristiwa osmosis pada percobaan kali ini adalah perpindahan molekul air dan garam dari konsentrasi rendah(larutan garam) ke konsentrasi tinggi(telur).Peristiwa osmosis ini mempengaruhi berat dan ukuran telur, pada percobaan kali ini, berat dan ukuran telur bertambah besar karena larutan garam masuk ke dalam telur dan juga mempengaruhi volume larutan di luar telur bakteri dan mikroorganisme tidak mampu hidup di larutan garam, maka seringkali kita mengawetkan makanan dengan cara mengasinkan makanan tersebut sebagai contoh, telur asin.Cangkang pada telur merupakan membran yang memiliki pori-pori dan bersifat selektif permeable, sehingga molekul air dan garam dapat masuk. Pengamplasan pada telur ayam dimaksudkan untuk mengikis kalsium agar mempermudah molekul dapat masuk.Peristiwa osmosis ini dapat mempengaruhi kondisi di dalam telur.
Telur asin juga memiliki nilai gizi yang tinggi yaitu, terdiri dari 13% protein, 12% lemak, serta vitamin, dan mineral. Nilai tertinggi telur terdapat pada bagian kuning telur. Kuning telur mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan serta mineral seperti: besi, fosfor, sedikit kalsium, dan vitamin B kompleks. Sebagian protein dan semua lemak terdapat pada kuning telur. Adapun putih telur yang jumlahnya sekitar 60% dari seluruh bulatan telur mengandung 5 jenis protein dan sedikit karbohidrat.
B.     Saran
              Adapun yang di sarankan agar makalah ini bisa lebih baik adalah sebagai berikut:
1.      Efesiensikan waktu agar tidak terjadi kesalahan dalam pembuatan makalah ini.
2.      Berhati hati-hatilah agar telur tidak pecah dan toples harus dipastikan rapat agar udara tidak masuk kedalam telur yang dapat membuat telur menjadi busuk.
3.      Perebusan telur asin sebaiknya lebih lama, karena perebusan yang kurang lama menyebabkan tekstur telur masih cair.
4.      Carilah materi bukan hanya satu sumber tetapi carilah dari berbagai sumber


DAFTAR PUSTAKA

http://njuznya.blogspot.com/2009/05/laporan-biologi-pembuatan-telur-asin.html. Diaksespada25     Agustus 2015.
























































Tidak ada komentar:

Posting Komentar